Jumat, 06 November 2015

Dieng dan Panti Asuhan


Pada tanggal 27 November 2015 ada acara ke Dieng bersama dengan para sahabat di Semarang. Langsung saja saya mulai eksekusi tiket pesawat ke Semarang. Kebetulan ada poin sebuah maskapai pelat merah untuk bisa ditukar tiket gratis, meski harus bayar pajak sendiri. Tapi lumayanlah tetap sangat hemat daripada bayar sendiri semua. Tiket berangkat oke, tapi baliknya untuk kuota tukar poin habis. Mungkin kalo jauh-jauh hari saya masih dapat tempat. Demi untuk " me time" saya rela merogoh kocek untuk beli tiket balik. Dan semuanya sudah siap, tinggal menunggu hari keberangkatan, yaitu sehari sebelum ke Dieng (tanggal 26).

Pagi itu lumayan lengang, masih ada cukup waktu untuk bercengkrama di kedai kopi bandara. Di bandara Juanda, keberangkatan untuk pesawat gar*** Indonesia di terminal T2 (biasanya untuk penumpang internasional). Karena ke Semarang memakai pesawat kecil, setelah check in kita masih bisa keluar lagi saat menuju gate keberangkatan (boarding). Saat itulah saya bisa ketemu suami lagi dan ngopi bareng di dekat pintu boarding.





Gambar 1: Ngopi



Malam sebelum keberangkatan ke Dieng koordinator mengingatkan bahwa jam 06,00 harus sudah kumpul di tempat yang disepakati dan memakai dress code: pakaian muslimah dengan atasan putih dan bawahan jean. Tapi para peserta memohon agar jam keberangkatan mundur setidaknya 06.30 karena harus mengantar anak ke sekolah. Akhirnya bus rombongan berangkat sekitar jam 07.00. Otomatis jam berangkat lebih telat dari jadwal semula. Apapun itu semua anggota rombongan bersuka ria dan sibuk berfoto selama perjalanan meski harus bersusah payah menahan goncangan bus.. *dasar emak-emak narsis, termasuk saya..

Setelah beberapa jam kita sampailah di tujuan pertama yaitu komplek Candi Dieng. Kami tiba di sana saat tengah hari. Makanya meskipun di perbukitan tetap saja terasa panas. Kita bisa menikmati pemandangan pegunungan, kesegaran udara dan megahnya candi sebagai karya bangunan bersejarah. Oh ya, untuk masuk area ini dikenakan retribusi per orang. Dan jangan lupa menyimpan karcisnya karena pengalaman kami saat keluar diminta menunjukkan tiket lagi.





Gambar 2: Candi di Dieng



Perjalanan selanjutnya seharusnya ke telaga warna dan Dieng Theater. Berhubung waktu yang semakin molor dari jadwal sebelumnya maka kita tiadakan dua destinasi tersebut. Perlu diketahui rombongan juga mengagendakan berkunjung ke panti asuhan di Temanggung jam 13.00. Padahal sekitar jam 13.00 masih di area candi. Untuk itu perjalanan dipersingkat supaya tetap bisa berkunjung ke panti asuhan saat perjalanan pulang ke Semarang. Selanjutnya kami melanjutkan ke Sikadang, yaitu kawah yang ada semburan lumpur dan berasap putih pekat. Kawasan ini berbau belerang yang sangat menyengat. Di tempat wisata ini banyak pedagang asongan yang menawarkan masker. Selain itu ada semacam pasar yang menjual hasil bumi dan makanan khas daerah sebagai oleh-oleh. Kebanyakan dari rombongan kami tak mau beli masker, karena jelas-jelas merusak penampilan saat berfoto. Alhasil setelah beberapa lama pangkal hidung saya terasa sakit dan tahu-tahu pilek. Selain itu kita juga menahan bahu belerang yang sangat menusuk hidung. Tapi tak perlu khawatir setelah keluar dari area sikadang gejala yang saya sebutkan hilang dengan sendirinya. Mungkin karena tubuh saya tidak biasa di lingkungan yang berbelerang.





Gambar 3: Pintu Masuk Sikadang





Gambar 4: Area Berkawah


Sebelum meninggalkan Wonosobo kami mampir ke tempat oleh-oleh. Oleh-oleh yang paling terkenal dari wilayah ini adalah rica-rica. Oleh-oleh ini berbentuk semacam manisan lengkap dengan sirupnya. Biasanya dikemas dalam botol kaca ato kemasan plastik seperti kemasan air minum. Manisan ini terbuat dari buah yang mirip pepaya kecil yang tumbuh di wilayah Dieng. Selain itu masih banyak jenis makanan khas Dieng yang bisa dibeli sebagai buah tangan.

Selesai sudah acara wisata,selanjutnya kami akan bekunjung ke sebuah panti asuhan di Temanggung. Kabupaten Temanggung adalah wilayah yang kita lewati menuju Semarang. Sehingga tidaklah rumit untuk mencapai tempat tersebut. Apa yang kami berikan mungkin saja tidak seberapa. Kami ke sana dengan niat baik, memberikan dukungan dan semoga bisa sedikit membantu. Setelahnya, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang menuju Semarang. Bus sudah tidak segaduh tadi pagi. Sebagian besar tidur terlelap dalam mimpi masing-masing. 


Kadang kita harus menyempatkan diri untuk melakukan perjalanan bersama para sahabat untuk bersosialisasi dan me-refresh diri. Untuk merealisasikan, kita dapat memanfaatkan promo atau penukaran poin agar mendapatkan penghematan. Dalam setiap perjalanan pasti kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru termasuk mengenai makanan. Dan meskipun kita selalu mengutamakan penghematan, seharusnya tidak lupa akan perlunya bersedekah.*) By: Yunie Sudiro.

Senin, 19 Oktober 2015

Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya


Hampir lima tahun rute saya setiap hari melewati  jalan Brawijaya. Saya sebenarnya mengetahui bahwa dibalik jalan tersebut terdapat lapangan yang sangat luas. Hanya saja lapangan ini tak tampak dari jalan yang saya lewati karena tertutup tempat driving dan gedung olah raga lainnya. Terus terang saja, awalnya memang saya tak begitu peduli tentang keberadaannya. Sampai pada suatu hari saya harus ke sana untuk menemani anak saya melihat pameran HUT TNI AD (Hari Ulang Tahun - Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Darat) . Dia suka melihat pameran perlengkapan perang. Di hari itu pengunjung juga diberi kesempatan memegang senjata dan naik tank. Selain itu juga ada atraksi terjun payung dan barisan tentara. Yang lebih membuat lebih meriah lagi adalah disediakannya makanan rombong gratis yang jumlahnya mungkin sekitar seratus. Rombong makanan terdiri dari macam-macam jenis, ada soto, bakso, dan lain-lain yang biasa dijajakan di wilayah Surabaya.




Gambar 1: Memegang Senjata




Gambar 2: Naik Tank                                                                           



Gambar 3: Terjun Payung




Gambar 4: Barisan Tentara



Gambar 5: Makanan Gratis




Kebetulan setelah momen itu saya ditanya oleh seorang teman: "apakah anak pertama sudah berangkat sekolah sendiri?" Saya bilang belum karena belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) dan juga belum bisa berkendara motor ataupun mobil. Lalu teman saya menanyakan: "kenapa tidak belajar?" Saya bilang pernah belajar motor di komplek perumahan tapi belum lancar karena banyak halangan. Dan saya ngeri kalau sampai menabrak mobil tetangga yang parkir di tepi jalan. Lalu teman saya menyarankan untuk belajar di lapangan Kodam. Katanya anaknya juga belajar setir mobil di sana dan sekarang sudah lancar. Akhirnya saya bawa ke dua anak saya untuk belajar berkendara motor dan mobil ke sana.

Perlu diketahui tempat ini jika malam hari juga selalu ramai karena ada pasar malam. Setahu saya di sana banyak pedagang kaki lima, kereta kelinci dan persewaan mobil-mobilan. Pada hari Senin sampai Sabtu biasanya siang hari sepi dari aktivitas pedagang, lapangan tampak sangat luas. Saat inilah banyak masyarakat untuk belajar berkendara sepeda, motor dan mobil. Ada juga yang berolah raga lari mengelilingi lapangan. Lain halnya hari Minggu pagi, pada pagi hari lapangan ini aktivitasnya seperti malam hari dihari biasa, ramai kaki lima dan berfungsi menjadi tempat rekreasi. Selain itu, lapangan ini sering dipakai acara konser musik. Jadi sedapat mungkin saat ada event menghidari jalan sekitarnya karena pasti padat bahkan macet.


Di tempat ini juga ada tempat-tempat yang biasa dipakai pengunjung berfoto. Salah satunya monumen berbentuk meriam. Intinya lapangan ini tidak hanya dimanfaatkan oleh para TNI tapi juga banyak dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar. Membawa anak-anak ke sana adalah salah satu cara untuk menambah wawasan dan juga menjadi sarana rekreasi tanpa harus menguras isi kantong.*) By: Yunie Sudiro.

Senin, 07 September 2015

Menu Masakan Dari Durian


Dulu saat saya masih anak-anak terasa mual jika mencium aroma buah durian. Jangankan untuk mencicipi, tercium samar-samar saja saya langsung menjauh. Jadi saat itu saya tak tahu persis bagaimana rasa buah yang beraroma menyengat tersebut. Tidak tahu kenapa pada awal kuliah teman-teman membeli buah durian dan ternyata saya tak terganggu sama aromanya dan bahkan mulai menyukainya. Akhirnya saya mencoba mencicipi buah yang susah di buka ini. Dan...saya langsung jatuh cinta.

Mulai saat itu saya sering membelinya terutama saat musimnya. Apalagi saya pernah tinggal di Semarang. Di sana saya bisa langsung ke tempat agrowisata durian. Seingat saya pada musim ini juga disertai musim rambutan. Jadi selama perjalanan menuju tempat agrowisata kami dapat menjumpai pohon-pohon rambutan yang berbuah merah. Hal ini sangat menyenangkan bagi saya yang sebelumnya tinggal di daerah yang rambutan tak tumbuh. Selama perjalanan kami juga sering menjumpai penjual durian, rambutan dan petai. Tapi saya tak tahu persis apakah petai sedang musim atau selalu ada tiap saat. Pada tahun 2010 saya sempat menggambil gambar buah durian di pohonnya di sebuah agrowisata yang saya kunjungi.





Gambar 1: Pohon Buah Durian 

Mulanya saya hanya suka makan buah ini tanpa diolah. Sampai suatu saat suami dinas ke Medan membawakan oleh-oleh pancake. Dan lagi-lagi saya langsung amat suka. Hal ini terbawa sampai saat saya pindah lagi ke kota Surabaya. Untunglah ada teman yang memberikan referensi karena pada awal kepindahan saya suasana kota sudah berbeda dari 5 (lima) tahun sebelumnya, yaitu sebelum saya meninggalkannya. Waktu itu yang direferensikan adalah pancake yang dijual di sepanjang jalan Taman Apsari. Kemasannya per biji dan beku.

Lidah saya belum berubah. Seringkali menginginkan  untuk mengecap buah durian. Hingga suatu sore tak sengaja saya menonton tayangan televisi tentang sebuah resto yang semua menunya berbahan dasar durian. Pastinya saya tak ingin melewatkan tayangan tadi karena saya ingin sekali mencobanya. Akhirnya saya mendapatkan alamatnya, yang kebetulan di kota Surabaya.

Pada suatu Minggu saya berkesempatan mampir ke resto tersebut. Saat kami datang langsung disodori buku menu kemudian langsung bisa pesan di kasir dan melakukan pembayaran. Makanan akan datang setelah kami melakukan traksaksi. Jadi jika kami ingin menambah pesanan harus melakukan proses yang sama, padahal kadang harus mengantre lagi di kasir. Makanya jika mau menambah makanan atau minuman, lakukan transaksi sebelum makanan atau minumannya benar-benar habis. Siapa tahu di lain tempat kita menemukan sistem pemesanan yang sama, trik tersebut dapat diandalkan. Selain itu, ada aroma durian di saat-saat tertentu, sepertinya pada saat ada yang membuka  tempat penyimpanan durian. Kebetulan waktu itu saya duduk di dalam. Saya tak tahu apakah aroma tadi terasa sampai tempat duduk luar apa tidak. Buat saya sih..suka-suka saja sama aroma durian.






Gambar 2: Varian Minuman Dengan Bahan Durian





Gambar 3: Sambal Durian





Gambar 4: Pancake Durian




Singkat cerita, kami memesan otot goreng, otot goreng tepung, cumi hitam, semua disajikan dengan sambal durian. Untuk sambal tidak ada yang tanpa durian. Meskipun begitu, tidak tampak ada durian diuleg. Rasanya juga tetap seperti sambal. Kami juga memesan beberapa minuman dari durian dan pancake. Khusus pancake kami suka yang original (seperti yang biasa kami beli di Taman Apsari). Semuanya kami suka dan kepingin balik lagi. Dasar penyuka durian..


Urusan dapur dalam sebuah rumah tangga merupakan hal yang vital. Bayangkan saja apa yang akan terjadi tanpa adanya makanan dalam sebuah rumah. Referensi tentang makanan sangat dicari para pengemban tugas ini. Masakan dari bahan durian dapat dijadikan alternatif pilihan menu untuk keluarga.*) By: Yunie Sudiro.

Rabu, 19 Agustus 2015

Padasan



Mengawali aktivitas menulis sering saya lakukan setelah sejenak "googling" mencari tau topik yang serupa. Sekedar ingin tau apa yang pernah dialami dan dibahas oleh individu lain. Saya tak menyangka kata padasan ternyata masuk dalam Kamus Bahasa Besar Indonesia (KBBI) yang artinya tempayan yang diberi lubang pancuran (tempat air wudhu). Setau saya kata padasan hanya dikenal oleh orang-orang yang hidup di masa kecil saya dan tinggalnya tidak di kota besar di Jawa Timur atau Jawa Tengah. Dan ternyata arti dalam kamus tadi persis seperti yang saya maksud. Akan tetapi apakah saat ini kebanyakan orang masih mengenal istilah ini?

Bangunan rumah saya mulai berumur 10 tahun. Beberapa bagian rumah sudah mulai butuh perhatian. Yang paling urgent adalah suara ngacir air yang tidak mau berhenti. Siapa sih yang mau tagiham PDAM membengkak sia-sia? Maka dengan percaya diri saya meminta tolong suami melepas shower yang menjadi sumber masalah tadi. Percaya diri bahwa tanpa harus ahlinya bisa melepasnya. Dengan perkasa suami memutar pangkal kran, dan...klek...lepaslah shower. Seharusnya kita senang bisa melepaskan, tapi ini malah kita merasa sedih karena ternyata lepasnya tidak tuntas, melainkan putus. Jadinya ada sebagian sisa pangkal shower yang tertinggal dalam saluran pipa. Kalau ini, mau tak mau harus diserahkan pada ahlinya alias tukang. Hanya saja tak mungkin saat itu juga kita mendapatkan tukang.
Awalnya bingung juga, PDAM dimatikan kita tidak bisa aktivitas, tidak dimatikan bekas shower airnya ngocor dan mengurangi tekanan air pada kran lainnya. Untungnya saya teringat masa kecil dimana lubang padasan ditutup kayu jika tak digunakan. Langsung saja kami mencoba mengaplikasikannya. Ternyata dengan rautan kayu saja tak cukup, supaya lebih rapat ujung kayu dililit plastik. Kalau yang bagian plastik ini terus terang saya lupa, yang ingat sang mantan pacar. Cara ini ampuh dalam mengatasi masalah kami yang keliatan remeh tapi berdampak cukup merepotkan.

Keesokan harinya saya mendapatkan tukang untuk memperbaiki kran. Karena sudah manggil tukang saya bermaksud melakukan pergantian dan perbaikan bagian lainnya, yaitu kran selain yang tadi, otomatis pompa air, nat keramik kamar mandi dan kebocoran pipa air sebelum meteran PDAM. Setelah pak tukang survey dan menyiapkan pekerjaannya, berpamitan sama saya untuk beli bahan. Sebelum berpamitan sempat memberitahukan jika kesorean dikerjakan besok pagi saja. Wah... kalau ini benar-benar terjadi, saya lebih repot lagi. Gimana tidak, lubang pipa sekarang malah nambah lagi. Makanya pak tukang saya wanti-wanti harus balik hari itu juga. Ehh...setelah ditunggu-tunggu gak datang, sampai gak bisa mandi. Baru setelah dicek kasih kabarnya ke suami dan sepakat pak tukang balik esok hari dimana yang diajak berunding gak tau kondisi rumah yang sudah ada 2 lubang pipa air yang siap membanjiri rumah jika PDAM dinyalakan. Lagi-lagi solusi kuno tadi kita aplikasikan sebagai penyelamat.

Di era sekarang, yang lebih modern dari saat masa kecil saya, banyak hal yang lebih dimudahkan. Pada saat ini kita sangat terbantu dengan kemajuan teknologi yang ada. Pekerjaan kita menjadi lebih mudah diselesaikan dengan waktu yang lebih singkat. Hanya saja semua itu di saat tertentu bisa saja tak berjalan sebagai mana mestinya. Contoh: mesin cuci dan rice cooker tak bisa digunakan saat listrik mati. Jadi kita perlu memperkenalkan atau mewarisi cara-cara tradisional kepada anak-anak kita agar bisa survive apapun kondisi lingkungannya.*) by: Yunie Sudiro

Kamis, 19 September 2013

Otak-otak Bandeng dan Tikus Bagasi




Waktu itu bulan puasa Ramadhan tahun 2013. Saya selalu merencanakan menu sahur saat setelah berbuka di malam sebelumnya. Jika harus ada yang dibeli bisa dibeli malam itu. Saat ini kami berada di sebuah mall, jam 17.00 langsung menuju foodcourt di mall itu. Pengalaman saya sebelum-sebelumnya, rata-rata tempat makan di mall jika mendekati jam berbuka puasa selalu penuh atau masuk waiting list. Yang masih memungkinkan adalah foodcourt karena tempat duduk yang tersedia paling banyak. Seperti biasanya, saat kami datang orang-orang mulai memenuhi tempat duduk. Untung kami masih mendapatkannya. Telat sedikit saja, di saat menjelang adzan mahgrib pasti kami kesulitan mendapatkan tempat duduk. Adzan berkumandang... Semua umat Islam disekitar kami serentak membatalkan puasa.

Kami memutuskan sahur dengan lauk otak-otak bandeng. Otak-otak bandeng merupakan jenis lauk yang terbahan dasar ikan bandeng. Cara membuat otak-otak bandeng adalah sebagai berikut:

  1. Membersihkan ikan bandeng dari sisiknya.
  2. Mencuci bersih ikan bandeng yang sudah bersih dari sisik.
  3. Memukul-mukul badan ikan agar dagingnya hancur.
  4. Mengeluarkan daging ikan yang sudah hancur melalui bagian kepala, sehingga tinggal kulit ikan bandeng utuh.
  5. Membersihkan duri sebelum memberi bumbu pada daging ikan yang sudah hancur.
  6. Memasukkan kembali daging ikan yang sudah berbumbu ke dalam kulit ikan, sehingga terbentuk kembali seperti ikan.

Dari proses tersebut di atas terlihat bahwa otak-otak bandeng adalah lauk ikan yang sudah bebas dari duri dan sudah berbumbu.  Pada toko langganan kami dibumbuhi sedikit pedas.


Dan meluncurlah kami menuju pasar Genteng (tempat jual oleh-oleh khas Surabaya). Sekitar setengah jam mobil sudah parkir di jalan depan toko-toko. Seorang juru parkir telah membantu dan setelahnya berdiri di depan mobil kami. " Lama apa sebentar?", tanya anak saya. Saya bilang: "sebentar". Kemudian mereka gaduh memperdebatkan antara ikut turun apa tidak. Tahu-tahu, .." Braaak..." Suara dari pintu bagasi. Spontan saya menoleh ke belakang, ternyata ada seseorang berdiri di belakang mobil sambil memegang hendel pintu bagasi. Saya langsung menyadari bahwa orang tadi pasti bermaksud mengambil sesuatu dari bagasi kami. "cepat turun..cek bagasi", seru saya pada suami. Suami saya bilang: "cuma ada stik golf di belakang". Saya tetap menyarankan untuk dicek. Dan syukurlah tas golf tetap berada ditempatnya karena memang posisinya susah diturunkan dengan waktu singkat. Sementara itu, si orang yang berdiri di belakang kita dengan tampang yang menakutkan buat saya dan anak-anak melenggang ke depan mobil. Mungkin sekedar kamuflase, dia bertegur sapa dengan si tukang parkir meski si tukang parkir keliatan agak bingung.

Otak-otak bandeng sudah di tangan. Segera kami ke mobil dan meninggalkan tempat parkir. Sepanjang jalan kami menganalisis kejadian tadi. Akhirnya kami dapat solusi jika berhenti jangan mematikan mesin dulu sebelum benar-benar siap turun. Karena jika mesin mati otomatis central lock pintu mobil akan membuka. Tapi ada jenis mobil meskipun mesin masih menyala central lock pintu tetap membuka jika posisi parking. Kami takut kejadian seperti tadi terulang lagi. Akhirnya kami sepakat akan langsung selalu mengecek central lock pintu mobil saat mobil berhenti. Selain itu juga membiasakan diri tidak membuka pintu dari central lock pintu mobil jika memang tidak langsung turun. 


Mempersiapkan makanan pada bulan puasa umumnya berbeda dengan hari-hari biasa. Apalagi ada makan sahur. Waktunya yang di luar waktu normal membuat kita harus mempersiapkan baik-baik pada malam sebelumnya. Pemilihan menu dapat disesuaikan dengan selera dan nilai gizi yang diperlukan.*) By: Yunie Sudiro.

Rabu, 17 Juli 2013

Ortu Murid Dan Sekolah Kawasan Di Surabaya



Hari ini saya masih melanjutkan pembahasan tentang pendaftaran sekolah negeri. Maklum sebagai orang tua (ortu) apalagi sebagai mama selalu khawatir anak-anaknya masuk di lingkungan sekolah yang tak diharapkan. So, pendaftaran sekolah adalah topik yang paling hangat buat mama-mama yang sebagian besar sependapat dengan saya (ini hanya perkiraan saya, belum ada survey nya...). Saya adalah salah satu orang tua yang selalu pasang mata dan telinga jika ada isu tentang perkembangan pendidikan di Indonesia. Gimana tidak, dengan bugdet pendidikan yang sangat terbatas  kami sangat bercita-cita anak-anak kami mendapatkan pendidikan yang “memadai”. Sasaran pertama pasti memasukkan mereka ke sekolah negeri. Kepinginnya lagi masuk ke sekolah favorit menurut khalayak , entah apa istilah yang sebenarnya. Saya yakin sebagian besar orang tua akan melakukan hal yang sama dengan saya. Berbagai upaya kita lakukan agar anak-anak kita mendapatkan sekolah yang diharapkan. Mulai dari memasukkan mereka ke berbagai bimbingan belajar, kursus untuk bidang-bidang yang mendukung sampai les privat. Gambaran ini dapat menunjukkan bahwa para orang tua sangat menginginkan anak-anaknya mendapatkan satu kursi di sekolah yang diharapkan.

Masih tentang isu pendidikan. Setelah Ujian Nasional (UN) usai, saya menanti pengumuman sistem yang ditawarkan pemerintah untuk pendaftaran sekolah negeri, terutama di Surabaya. Kok ngebet banget ... emang kelas berapa sih mbak anaknya? Emang anak-anak saya belum ada yang mendaftar sekolah di tahun ajaran ini. Anak-anak saya duduk di kelas 8 dan kelas 5, tapi saya ingin mempersiapkan mereka sedini mungkin. Namanya juga usaha ..... dan saya tahu semua akan kembali kepadaNya. Di saat yang lain saya telah membaca berita  yang mengatakan bahwa mulai tahun depan UN untuk Sekolah Dasar (SD) akan ditiadakan. Saya otomatis penasaran, dalam hati saya bertanya: “bagaimana cara masuk SMP (Sekolah Menengah Pertama) nya?” ----- Sementara kita lupakan tahun depan. Kita berburu berita untuk tahun ini. Dengan mengikuti berita-berita tentang pendidikan nasional dan lokal saya menjadi tahu bahwa di tahun ajaran ini untuk Sekolah Menengah pertama dan Sekolah Menengah Atas tetap ada cara melalui tes untuk masuk sekolah kawasan. Sekolah kawasan adalah sekolah eks RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan sekolah tertentu berdasarkan kawasan (wilayah) masing-masing. Setelah pengumuman sekolah kawasan tetap ada penerimaan untuk sekolah regular berdasarkan nila hasil UN. Menurut berita-berita yang saya ikuti, para orang tua sangat antusias untuk mendukung putra-putrinya berebut kursi di sekolah kawasan sebagai pilihan prioritas.


Syarat dan ketentuan pendaftaran SMP Negeri di Surabaya bisa saja berubah setiap saat. Informasi di atas adalah untuk tahun ajaran baru 2013/2014. Untuk itu hendaknya para orang tua murid selalu mengikuti informasi yang berkembang sesuai berjalannya waktu agar dapat mendukung anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang diharapkan. Jika info di atas masih kurang, para pembaca bisa browse sendiri di laman PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) kota Surabaya. Selain itu juga bisa mencari informasi dari sumber lain yang mendukung. Happy hunting... *)By: Yunie Sudiro.

Jumat, 12 Juli 2013

Oleh- oleh dari Bali (bagian 1)





Libur telah tiba.. Libur telah tiba.. Nyanyian Tasya kecil serasa terngiang di telinga disaat anak-anak usai menerima raport. Putra dan Putri naik kelas dengan nilai  di atas yang distandarkan. Apapun hasilnya merupakan jerih payah mereka yang patut mendapatkan apresiasi. Setiap anak mempunyai tingkat kemampuan masing-masing. Menurut saya, reward tak harus diberikan pada  saat anak mendapatkan nilai "A", tapi berdasarkan usaha yang mereka kerahkan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Begitupun Putra dan Putri menagih liburan sebagai reward usaha mereka untuk dapat meningkatkan nilai di akhir tahun ajaran.

Liburan kenaikan kelas selama 3 mingggu. Kami sepakat untuk berlibur ke Bali di minggu ke 2. Semua kami siapkan seminggu sebelumnya, termasuk kejelasan cuti suami. Harapan kami adalah, mungkin libur minggu ke 2 tak seramai minggu ke 1, sehingga kami tak menghadapi hambatan yang berarti untuk mendapatkan tiket pesawat dan hotel sesuai dengan budget.

Sebelum hari H kami sudah mulai merancang kira-kira setiba di TKP harus ke mana saja. Sehari sebelum keberangkatan kami mulai berkemas. Packing dimulai.. Penentuan prioritas barang bawaan adalah keputusan penting. Mana yang harus dibawa dan mana yang harus ditinggal kadang menjadi pilihan yang sulit. Apalagi kami sudah sepakat membawa kamera beserta tripod nya agar kita dapat foto berempat tanpa mengganggu orang lain. Akhirnya ritual awal sesuai jadwal. Malam itu packing kelar. Oh ya, saya akan sangat menikmati setiap detail perjalanan yang saya lalui. Sehingga saya juga akan suka menceritakannya lagi melalui tulisan ini.

Pagi yang dinantikan telah tiba.. Pesawat kami terjadwal berangkat pukul 11.00 WIB. Putra terbangun paling pagi karena dia juga yang paling bersemangat menunggu hari keberangkatan. Usai mempersiapkan diri kami berangkat ke bandara. Sekitar jam 10.00 WIB kami sudah di sana. Ini adalah awal perjalanan kami selama 4 hari 3 malam. Taxi yg kami tumpangi tak dapat berhenti tepat di depan tempat keberangkatan karena telah berjajar beberapa mobil hitam yang dikawal beberapa pria kekar berambut cepak dan berseragam, sebagian berbaju safari gelap....pasti sebagian teman-teman sudah bisa menebak mobil siapa... dan sebagian juga ada yang bertanya-tanya mobil siapa? .. He ..he.. Kami harus berhenti beberapa meter setelah rombongan mobil hitam.  Semua tas telah diturunkan dari bagasi, sayapun harus berlari mengambil trolly yang jaraknya yg tidak bisa dibilang dekat. Meski demikian kami menikmatinya, yang penting waktu masih cukup buat check in. Kami juga masih sempat membungkus travel bag dengan plastik pelindung. Apa ya istilahnya... bag wrapping, mungkin, saya tak begitu perhatian, yg saya perhatikan label harga jasa layanannya yaitu Rp 35.000. Saat ini saya masih berfikiran mending mengeluarkan ongkos daripada tas rusak atau isi tas diobrak-abrik oleh tikus-tikus bagasi. Karena saya pernah mengalami tas dirusak saat dari Kuala Lumpur ke Jakarta.


Gambar 1: Tas dan pelindungnya.

Keberangkatan sesuai jadwal, tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai saat jam makan siang. Sepanjang koridor yang kami lalui banyak tulisan  selamat datang. Seperti biasa saya tak kan pernah melewatkan kesempatan untuk berpose di depannya... Dan .. cheers...narsis dimulai.. He..he..



Gambar 2: Selamat Datang

"Ayoo makan..." kicauan 2 kurcaci yg selalui mengikuti kami. Kedua anak saya paling gak bisa nahan lapar kecuali saat berpuasa (terpaksa kali...). Padahal keduanya ditahun kemarin sebulan puasa penuh tanpa ada bolong. Semoga  bulan Romadlon di tahun ini juga bisa melewatinya seperti tahun lalu. Amien.... Mereka minta makan siang di Burger King (BK). Maklum di Surabaya belum ada, jadi kalo ada kesempatan mampir pasti mereka minta. Dengan masih mendorong troly kami bergegas mencari counter BK. Di BK terlihat kursi penuh terisi, untung di teras ada satu meja yang mulai bergegas. Akhirnya saya duduk menjaga meja, yang lain pergi ke dalam memesan makanan.  Tiba-tiba ada 2 perempuan menghampiri saya. Usia mereka kira-kira 20 an. Awalnya minta ijin ngobrol 3 menit. Saya mempersilahkan, ternyata minta donasi untuk sebuah yayasan sosial dengan cara jual voucher. Vouchernya macam-macam, ada restoran dan lainnya yang lokasinya di Bali semua. Padahal saya kan di Bali hanya 4 hari dan belum tentu mengunjungi tempat-tempat yang tertera di voucher tadi. Selain itu donasi kan tidak harus melalui mereka. Dengan halus saya menolaknya. Dan di mbak-mbak tadi dengan sopan meninggalkan saya. Bertepatan saat itu, Putra memanggil saya agar segera pesan makanan. Sambil menunggu pesanan tak lupa saya mengabadikan suasana BK.     



Gambar 3: papa di BK

Perut sudah kenyang, bisa dipastikan untuk sementara waktu tidak ada yang rewel. Segera kami kembali ke counter pemesanan taxi. Dan tak lama kita sudah sampai di hotel. FYI, kami menginap di hotel Bali Kuta Resort (BKR). Kami mendapatkan kamar di lantai 1 dengan view pool. Beberapa saat kami menikhmati kamar dan sempat berfoto di tepi kolam renang.



Gambar 4: Menunggu taxi



Gambar 5: Dalam kamar



Gambar 6: Di kolam renang

Tak terasa saat itu menunjukkan pukul 4 sore waktu setempat (WITA). Kalo jam saya sih masih pukul 3, karena saya malas merubahnya. Saya dan suami teringat akan rencana agenda kami. Langkah 1 adalah menemui bagian layanan tour hotel. Saya dan suami langsung mendiskusikan jadwal perjalanan kami selama di sana. Rencana besar awal, hari 1 dinner di Jimbaran, hari 2 watersport di laut dengan cruiser ship, hari 3 elephant riding, hari 4 pulang dan beli oleh-oleh. Untuk ke Jimbaran saat ityu sudah dipastikan clear. Untuk hari ke 2 maunya kita pakai Quick Silver cruiser ship tapi penuh dan waiting list untuk hari ke 3. Kepastian akhirnya baru didapat hari ke 2 dengan alternatif Island Explore Fun Ship Cruise. Akhirnya kita putuskan hari ke 2 ke Elephant Park di Bakas.

Saya ingin jam 17.30 sudah berada di pantai Jimbaran. Ternyata perjalanan dari hotel memerlukan waktu 1 jam termasuk antisipasi macet. Otomatis 30 menit lagi kita harus sudah meninggalkan hotel. Segera saya ke kamar menyiapkan anak-anak. Kebetulan jalanan tak semacet yang diperkirakan, sebelum setengah enam kami sudah duduk di meja yang terletak di bibir pantai. Untung masih tersisa 1 meja di posisi yang kami incar, yaitu sisi paling dekat air laut. Telat 10 menit aja rasanya kami tak kan mendapatkan tempat di deretan tersebut. Di posisi itu saya dapat menancapkan tripod di depan meja. Kami juga bisa berkejaran dengan ombak sambil mengawasi barang-barang bawaan. Oh ya, saat itu kita dibelokkan sama  guide tour kita yang merangkap sopir di Dewata Cafe. Setelah kita duduk langsung disodori menu minuman. Minuman yang disediakan beragam, yang beralkohol semacam cocktail juga ada.  Menu makanan diberikan menyusul. Kita bisa main di pantai dulu sepuasnya baru pesan untuk makan malam di saat mentari sudah tenggelam. Iseng-iseng saya memperhatikan meja-meja di sebelah. Sebelah kanan bule berbahasa Inggris, sebelah kiri turis juga berwajah oriental bahasanya mirip mandarin --tapi saya tak yakin kalo mandarin, karena saya gak bisa bahasa mandarin...he..he.. Tak lama kemudian datang serombongan pengamen cafe. Mereka bernyanyi dari satu meja ke meja lainnya sambil menyapa, mungkin sebagai bentuk keramah tamahan terhadap pengunjung. Dan para pengunjung dengan suka rela memberikan tips terhadap mereka. Lampu-lampu mulai dinyalakan, payung pantai mulai di angkat, tanda mentari mulai meredup. Saya langsung memesan menu makan malam. Teman-teman pasti tau di Jimbaran yang tersedia adalah sea food, jadi proses masaknya agak lama, misal bakar-bakar dulu dan tentu masaknya antre. Makanan siap santap di saat yang tepat. Kami sekeluarga menikmatinya di antara temaram lampu, disertai suara deburan ombak, beratap langit dengan kaki menyentuh pasir putih nan lembut.



Gambar 7: Berempat di jimbaran



Gambar 8: Bersama pengamen.

Kenyang dan puas menyelimuti perasaan kami di malam itu. Pengantar kami sudah mengintip di gerbang cafe. Kami minta waktu sebentar untuk ke toilet dan berusaha membuat baju Putra lebih kering karena basah saat main di pantai. Sebagai pengalaman jika suatu saat makan di sana harus bawa baju cadangan. La...la..la.. mobil melaju memecah kemacetan malam di Kuta membawa kami kembali ke hotel (bersambung ke bagian 2)


** by: Yunie Sudiro.