Kamis, 10 Februari 2011

Museum Kereta Api Ambarawa


Minggu yang cerah, langit tampak bersih dari noda mendung. Sang Putri dan Sang Pangeran sangat menikmati hari libur mereka. Semenjak bangun tidur sudah sibuk membaca dan main game. Merekapun terperanjat setelah melihat kami siap pergi meninggalkan rumah, padahal sebelumnya sudah diperingatkan untuk bersiap-siap. Mereka terlihat sangat antusias menemani nenek-kakek mereka ke Museum Kereta Ambarawa meskipun sudah pernah mengunjunginya beberapa waktu yang lalu.
Saya akan mengemukakan rute yang kami lalui, siapa tahu ada teman-teman pendatang yang masih bingung dengan jalur Semarang-Ambarawa. Saya memulai rute perjalanan dari bundaran Kali Banteng (dekat Bandara Ahmad Yani) masuk ke arah Jl. Abdurahman Saleh. Saya sangat menyukai rute ini karena terhindar dari macet dan sepanjang jalan dapat mencuci mata dengan pemandangan alam nan hijau. Oleh karena itu jalur ini sangat cocok dilalui di siang hari, kalau malam lebih baik melalui jalur kota yang ramai dan terang. Setelah masuk jalan ini, dengan kondisi jalan mendaki yang kontur tanah yang semakin naik kita mengikuti jalan utama sampai menuju arah perumahan Greenwood. Lepas dari perumahan ini kita dapat melihat hamparan hutan karet sejenak. Saat itu matahari mulai tak tampak, gerimis mulai jatuh di kaca mobil yang kami tumpangi. Padahal perjalanan baru sekitar 20 menit dari bundaran Kalibanteng yang tak ada tanda-tanda turun hujan. Jalur ini akan melintas di depan obyek wisata Ngrembel Asri, yang beberapa ratus meter lagi ada pertigaan pasar Gunungpati, kita harus belok ke kiri menuju arah Ungaran. Kita mengikuti jalan utama yang termasuk wilayah Gunungpati, sampai jalur ini habis dan ada tanda verboden, kita harus belok kiri mengikuti petunjuk arah Jogja/Solo. Sebenarnya ada jalan yang lurus, tapi yang dari arah Gunungpati dilarang masuk karena jalur searah. Selanjutnya kita bertemu jalan antar kota arah Jogja/Solo, belok ke kanan mengikuti petunjuk arah Jogja/Solo. Kita akan melewati kota Ungaran dan selanjutnya Bawen. Pada saat di Bawen, jalan terbagi dua yaitu lurus arah Solo dan ke kanan arah Jogja. Untuk ke Ambarawa kita pilih arah Jogja.
Sampailah kita di kota Ambarawa. Sang pangeran dan sang putri bersorak sorai karena sudah dekat tempat tujuan. Apalagi ketika melihat monumen tank dipertigaan depan museum Palagan Ambarawa. Kita tinggal belok ke kiri, tak lama kita sudah melihat petunjuk “Museum Kereta Api Ambarawa” yang terletak di sebelah kanan jalan. Sekitar jam 11 kita sampai, parkir sudah dapat di tempat agak jauh dari lokasi. Suasana stasiun sudah ramai, saya bergegas ke loket membeli tiket. Harga per tiket Rp 5.000,-. Dari awal kami berencana naik Lori Wisata Ambarawa - Tuntang. Terlihat para pengunjung sudah antri di depan loket, tak ketinggalan sang mantan pacar ikut berjuang mendapatkan tiket. Nasib mujur belum berpihak pada kami, antrian tinggal dua orang tiket habis dan loket ditutup. Akhirnya kami menunggu loket dibuka lagi untuk pemberangkatan berikutnya, yaitu jam 13.00. Sambil menunggu, waktu bisa dimanfaatkan dengan melihat-lihat isi museum, menikhmati jajanan-*yang paling bikin kangen adalah merasakan hangatnya minuman ronde; hmmmm...*, melihat-lihat souvenir yang dijual para pedagang, dan.....berfoto...cheeerss.....

Gambar 1 : Peron stasiun
Gambar 2 : Lokomotif kereta uap
Menjelang jam 12.00 para calon penumpang tampak mulai antre meski loket masih tertutup rapat. Akhirnya loket untuk tiket “E” dibuka. Karena kereta yang dimaksud adalah sama yaitu kereta wisata Lori, maka tiket tiap pemberangkatan ditandai dengan kode abjad. Oh ya, harga tiket ini adalah Rp 10.000 per orang.
“Bagi calon penumpang dengan tiket E harap bersiap-siap”, seru petugas.. Tiket “E”....kamipun beranjak ke tempat pemberangkatan. Ingat, tiket kereta tanpa tempat duduk, jadi kita harus pasang kuda-kuda untuk berebut tempat, he..he... Buat yang belum berpengalaman soal rebut-merebut di tempat duduk kereta kelas ekonomi, strategi awal: cari pintu yang berseberangan rel karena tidak dipakai pintu keluar penumpang sebelumnya. Yang ke dua: segera naik kereta begitu kereta berhenti dan langsung duduk ditempat yang diincar. Tepat jam 13.00 kereta berangkat menuju stasiun Tuntang. Sepanjang perjalanan kita disuguhi panorama Rawa Pening dengan udara yang begitu segar, jauh dari polusi. Begitu sampai stasiun Tuntang, kereta berhenti sejenak dan langsung balik ke stasiun Ambarawa lagi. Perjalanan pergi – pulang stasiun Ambarawa – Tuntang memakan waktu kira-kira satu jam.
Gambar 3 : Rawapening
Weekend telah berakhir. Tenaga harus dikerahkan kembali untuk menyambut aktivitas di hari Senin. Hampir lupa sang putri dan sang pangeran masih ada ulangan harian yang harus dihadapi. Mereka harus mengulang materi ulangan walau dengan berat hati.... “Ma, tolong tanya : penyerahan kekuasaan di Indonesia dari Belanda kepada Inggris ditandai dengan perjanjian apa ....? Saya membantu menjawab soal tersebut hanya dengan mengingatkan kalau tadi kita dari sana. Dan sang putri langsung bisa menjawabnya, yaitu perjanjian Tuntang. ... ...
By: Yunie Sudiro.

Senin, 31 Mei 2010

Trans Semarang

“Ma.., kapan naik busway?”, tanya anak saya pada suatu hari. Busway yang dimaksud adalah BRT (Bus Rapid Transport) yang ada di Semarang alias Trans Semarang. Dia selalu teringat akan hal itu setiap kali melewati shelter. Sudah setahun kehadiran alat transportasi ini di kota Semarang, tapi kami belum sempat mencobanya. Karenanya saya ingin segera mengajaknya untuk naik bis tersebut. Kebetulan keesokan harinya adalah hari libur nasional, tanggal 28 Mei 2010.



Gambar 1: Trans Semarang

Matahari mulai terbit, kami sekeluarga mulai menyiapkan diri untuk pergi sekedar berkeliling dalam kota Semarang naik Trans Semarang. Dari rumah kami mengendarai mobil sampai mall Ciputra-Simpang Lima. Waktu itu masih jam 09.30 WIB, tapi sudah mulai ada aktivitas di lingkungan mall. Suasana parkir masih lengang, hanya ada beberapa mobil yang sudah parkir. Dengan mudahnya kami mendapatkan tempat parkir, padahal biasanya agak siang sedikit mencari parkir di mall daerah Simpang Lima amat susah.

Kami berjalan menyusuri trotoar depan mall. Tepat depan antara mall Ciputra dan hotel Ciputra terdapat shelter BRT. Di pintu masuk kita dapat melihat daftar shelter dimana BRT akan berhenti. Saat itu kami memutuskan untuk mencoba berkeliling dengan rute Simpang Lima-Terminal Penggaron.



Gambar 2: Salah Satu Shelter BRT

Adapun daftar shelter yang disinggahi oleh BRT berdasarkan pengumuman yang ada di shelter Simpang Lima adalah sebagai berikut:


Gambar 3: Daftar Shelter BRT

Sebelum duduk di tempat tunggu yang telah disediakan kami harus membeli tiket. Tiket BRT seharga Rp 3.500 untuk umum dan Rp 2.000 untuk pelajar. Bagi yang membawa anak-anak akan ditanya petugas, apakah anaknya duduk sendiri atau dipangku. Jika duduk sendiri akan dikenakan tarif yang sama.



Gambar 4 : Tiket

Ada beberapa calon penumpang sudah menunggu di sana. Setelah mendapatkan tiket kami ikut bergabung dengan mereka. Tak berapa lama datang satu unit BRT, tapi tujuannya ke terminal Mangkang, bukan terminal Penggaron. Saat itu petugas menginformasikan BRT dengan tujuan terminal Penggaron datang setelah itu. Baru saja petugas mengakhiri ucapannya, tampak datang BRT yang dimaksud.

Dengan semangat kami memasuki pintu bis. Di dalam sudah banyak penumpang. Meskipun begitu masih ada tempat duduk untuk kami. Sejuk yang terasa oleh saya saat masuk ke dalamnya. Saya berusaha mengamati suasana dalam bis. Saya memberi nilai A plus untuk alat transportasi ini. Bis tampak bersih, AC berfungsi dengan baik dan pelayanan yang baik. Saya sempat berfikir, jika suatu saat saya sedang malas nyetir dan kesiangan pergi ke mall daerah Simpang Lima (takut susah dapat parkir) saya bisa memanfaatkan BRT. Intinya --- bisa di ulang, tidak jera.....----



Gambar 4: Suasana Di dalam Bis Jurusan Terminal Penggaron

Semua penumpang terlihat sangat menikmati perjalanan. Shelter demi shelter bis berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Sampai pada akhirnya bis berhenti di terminal Penggaron. Kami langsung menuju bangunan shelter yang tersedia. Kami berniat langsung kembali lagi ke shelter semula saat berangkat, yaitu simpang lima. Tampak BRT jurusan Mangkang sudah menunggu calon penumpang. Kami bergegas membeli tiket dan langsung masuk ke dalam bis. Tak berapa lama kemudian bis sudah melaju. Para penumpang jurusan ini juga tampak menikhmati perjalanan. Perjalanan begitu lancar dan kami tiba di shelter Simpang Lima lagi.



Gambar 5: Suasana Di dalam Bis Jurusan Terminal Mangkang

Calon penumpang di shelter tersebut tampak lebih ramai dari pagi sebelumnya. Kami segera meninggalkan shelter dan menuju ke mall Ciputra. Seperti biasa, saya menyempatkan diri untuk window shopping..... Semoga belum ada barang yang cocok..., biar tidak boros...he..he.. Sayangnya, saya tergoda untuk membeli sebuah clutch ...


Memperkenalkan lingkungan pada anak merupakan salah satu tugas kita sebagai orang tua. Membawa anak-anak kita keluar rumah dan mengajaknya berkeliling mengendarai angkutan umum merupakan bagian dari cara kita memperkenalkan lingkungan. Selain itu, dengan mengetahui adanya angkutan umum yang memadai dapat dijadikan alternatif trasportasi keluarga yang lebih hemat daripada kendaraan pribadi.*) By: Yunie Sudiro.

Sabtu, 29 Mei 2010

The Broken Violin part II

Malam telah larut, kami tak sabar menunggu hari esok. Berbagai spekulasi kami munculkan. Mulai dari harapan optimistis sampai yang pesimistis. Namun kami harus dapat meredam perasaan yang telah berkecamuk, .....................................................................hingga pagi tiba.

Sang putri sudah terlihat lebih tegar setelah bangkit dari tempat tidurnya. Sang putri sudah mulai bisa tersenyum menyambut rutinitas. Meski masih saja menanyakan kapan benda kesayangannya akan dibawa ke toko untuk diperbaiki. Saya dan suami telah menyanggupinya hari itu akan ditanyakan ke toko.

Detik demi detik berlalu, jam menunjukkan pukul 10.00. Kami sudah parkir di depan toko. Bergegas kami membawa benda kesayangan sang putri ke dalam toko. Tanpa banyak basa-basi saya langsung mengemukaan permasalahan kami pada pegawai toko. Eh.....tanpa dinyana, tanpa disangka, ternyata sebab dari kekacauan biola adalah patahnya kayu kecil pengait antara tempat senar dan body nya.
Maklum, sebelumnya kami sekeluarga tidak pernah pegang biola... Karena itu, penyelesaiannya hanya mengganti kayu kecil tersebut. Cuma herannya para pegawai toko di sana adalah kepatahan yang terjadi. Karena selama ini belum ada yang mengalami "patah", tapi lepas. Apalagi umur biola baru 1 (satu) minggu. Menurut analisa mereka ada 2 (dua) kemungkinan :
(1) Saat menaruh pada tempatnya tidak pas sehingga tertekan di dalam tasnya, dan akhirnya patah
(2) Saat menaruh pada tempatnya tidak memegang body biola tapi tempat senarnya. Analisa ini sangat membantu kami untuk lebih tahu tentang perlakuan sebuah biola.

Tidak begitu lama kami menunggunya. Hanya sekitar 30 menit biola sudah seperti sediakala. Di samping itu biayanya juga sangat murah untuk ukuran umum.

Tak terasa hari sudah sore. Waktunya saya menjemput sang putri di sekolah. Wajah sang putri begitu riang saat keluar dari pagar sekolah. Mungkin dia merasa lega karena pelajaran telah usai. Tanpa kata dia duduk di jok depan. Dan tanpa dia sadari telah bertengger sebuah biola di jok belakang. Saya langsung mengejutkannya dengan menyuruhnya menoleh ke belakang. "Biolanya bisa diperbaiki, Ma?" sahut sang putri kepada saya. Wajah dengan senyumnya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Sesampainya di rumah, sang putri langsung memeriksa barang kesayangannya. Dan tak lupa memainkannya. Kali ini sudah tidak terdengar ngiikk...ngiik.. lagi. Yang tertangkap telinga saya adalah, do.., re..., mi..., fa..., sol..., la...., si.... Setelah kejadian itu, sang putri minta biolanya ditaruh jauh dari jangkauan anak-anak. Dia sendiri kalau mengambil harus naik ke atas kursi.

Dan les berikutnya sang putri sudah dapat membawa biolanya kembali. Dia sudah mulai belajar Twinkle-Twinkle Little Star, Lightly Row dan Ibu Kita Kartini. Semoga dia akan terus bersemangat latihan untuk lagu-lagu lainnya yang lebih kompleks.

By: Yunie Sudiro

Sabtu, 08 Mei 2010

Pendidikan dan Ibu Rumah Tangga


Pada kondisi modern seperti sekarang, gejala kanca wingking pun menggejala. Bedanya, pada era kartini kondisi itu diciptakan pihak luar (suami), pada era modern justru wanitalah yang lebih memosisikan diri menjadi kanca wingking. (suara merdeka, hal 19 tanggal 21 april 2010).

Pernyataan tersebut membuat penulis tergelitik untuk membahasnya lebih lanjut. Sebelumnya saya akan mencoba mengartikan maksud dari kanca wingking. Menurut saya yang dimaksud kanca wiking adalah bukan teman sejajar, yang dianggap hanya sebagai pelengkap dan berperan hanya di belakang layar. Karena hanya pelengkap, yang dikerjakan juga tidak menyangkut hal-hal yang proritas di dalam suatu rumah tangga. Selain itu juga tidak selalu dilibatkannya dalam mengambil keputusan-keputusan penting di dalam rumah tangga tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa wanita disebut kanca wingking karena tidak berkesempatan untuk engekspresikan diri dan atau berpartisipasi di masyarakat. Pada akhirnya mereka menikah dan berdiri di balik keberadaan laki-laki.

Saat ini ada 2 (dua) status pekerjaan bagi wanita, yaitu wanita pekerja dan Ibu Rumah Tangga. Meskipun sebenarnya setiap wanita yang berkeluarga juga harus mengemban tugas sebagai Ibu Rumah Tangga. Pekerjaan Ibu Rumah Tangga bagi wanita yang bukan kanca wiking harusnya bisa mengatur rumah tangga dengan baik karena suami lebih focus pada perolehan nafkah. Mengatur rumah tangga bukan berarti secara keseluruhan harus dikerjakan sendiri. Untuk pekerjaan yang tidak memerlukan pemikiran masih bisa dialihkan kepada pekerja rumah tangga. Hal ini dimaksudkan supaya ibu rumah tangga lebih mengutamakan pada hal-hal konseptual dan jika memungkinkan masih bisa berkarya walaupun tidak di luar rumah.

Terbentuknya suatu keluarga merupakan terbentuknya suatu organisasi. Dimana organisasi tersebut mempunyai tujuan yang dituangkan dalam pembagian pekerjaan dan tanggung jawab. Pembagian dan stadarisasi pencapaiannya tergantung dari kesepakatan para pelaku organisasi, yaitu para anggota keluarga. Meskipun biasanya pembagian pekerjaan dan tanggung jawab ini berdasarkan teori yang diajarkan semenjak kita di sekolah dasar. Di sana selalu diajarkan bahwa tugas utama ibu adalah mengurus rumah dan tugas utama bapak adalah mencari nafkah. Menurut saya mengurus rumah di sini adalah mulai dari pengelolahan keuangan, pengaturan pembelanjaan, operasional rumah, mengurus anak, sampai mengurus suami. Dengan begitu terlihat bahwa suami dan istri merupakan suatu partner, tidak ada yang di depan atau di belakang. Masing-masing akan mempunyai peran penting dalam kelangsungan suatu rumah tangga.

Begitu banyak tanggung jawab yang diemban seorang ibu rumah tangga. Dari sisi keuangan harus membuat anggaran dan mengevaluasinya. Operasional rumah dapat meliputi penyediaan makanan, kebersihan rumah dan menyiapkan perlengkapan pendukung harian. Mengurus anak meliputi pertumbuhan, kesehatan dan pendidikannya. Mengurus suami adalah peran wanita sebagai pendamping termasuk menyumbangkan pikiran bila diperlukan. Mereka pasti dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik jika didukung pengetahuan yang memadai. Untuk itu tingkat pendidikan seorang ibu rumah tangga dapat mempengaruhi setiap langkah yang diambil dalam melaksanakan tugasnya. Semakin mampu seorang ibu rumah tangga dalam melaksanakan tugasnya, perannya semakin diakui. Hal ini dapat menghindarkan wanita dianggap sebagai kanca wingking. Ironisnya menurut tulisan saudari Siti Muyassarotul Hafizoh (suara merdeka, hal 19 tanggal 21 april 2010) masih ada 70% wanita yang buta huruf.

Pada masa sekarang banyak saya jumpai mulai banyak wanita yang telah keluar dari pekerjaan di luar rumah setelah mempunyai momongan atau karena sebab lain. Dan banyak juga yang memulai aktivitasnya kembali setelah mereka anggap perlu. Di era sekarang, wanita dengan pengetahuannya semakin mengerti akan posisinya sebagai ibu rumah tangga. walaupun kenyataannya ada juga yang masih belum memahaminya. Jika semua para wanita Indonesia menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan baginya, maka perannya sangat dapat membantu untuk menjaga kualitas anak bangsa yang akan menjadi penerus bangsa ini.


By: Yunie Sudiro.

Selasa, 20 April 2010

Biola “Pearl River” ( bagian 1) : The Broken Violin

Saya dikaruniai amanat 2 (dua) orang titipan Tuhan, seorang putri dan seorang pangeran. Berikut adalah sedikit kisah mengenai sang Putri.
Sang putri bertipe tak mudah menyerah jika menginginkan sesuatu. Dia rela dan tak putus asa jatuh bangun saat belajar sepatu roda, sampai pada akhirnya bisa menguasainya. Tiga hari berturut-turut pantang menyerah belajar naik sepeda dan hari ke tiga langsung lancar bersepeda. Itu merupakan dua contoh dari kegigihannya. -----contoh yang terakhir adalah dia akan merengek terus jika menginginkan sesuatu dari orangtuanya-----. Ya, namanya usaha…meskipun pada akhirnya belum tentu dituruti…

Tidak tahu asal muasalnya, tahu-tahu sang putri gandrung banget yang namanya biola. Padahal selama ini tak pernah menunjukkan gelagat minat terhadap benda ‘ringkih’ itu. Dengan berbagai jurus mautnya dia meminta mama-papanya mengikutkan les biola. Akhirnya saya dan suami menuruti dengan berbagai pertimbangan. Kebetulan pada saat itu tempat belajar musik langganan keluarga kami lagi diskon 50% untuk biaya pendaftaran. Wah, ini rezeki alias nasib baik benar-benar berpihak pada sang putri, pikir saya, maksudnya lesnya diridhoi olehNya. Karena pendaftaran telah dilakukan akhir bulan, otomatis lesnya akan dimulai bulan depannnya. Walaupun ternyata mulai bulan depannya biaya bulanan les naik 10% dan minggu pertama masuk tanggal merah, yah dijalanin aja. Karena sang putri sudah kebelet sekali.

Saking kebeletnya, les belum dimulai sudah kepingin dibelikan biola. Setiap pergi ke toko buku Gramedia, selalu minta diantarkan melihat biola. Tapi kami belum menuruti. ---Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Minggu kedua adalah hari pertama masuk les. Dia tak bisa menyembunyikan kegembiraannnya. Semangat sekali saat saya jemput di sekolah. Saat saya datang, sudah siap pergi. Biasanya saya harus menunggu beberapa saat karena dia masih ngerumpi dengan sang BFF --- Best Friend Forever--- (istilah dia buat sahabat –sahabat terdekatnya) . Pukul 17.00 saya sudah parkir di depan tempat kursusnya. Setengah jam lagi kelas biola akan dimulai. Sang putri langsung menuju kelas. 30 menit telah lewat. “Kok cuma sebentar” protesya kepada sang guru. “Wah…ini namanya bener-bener suka” kata sang guru. “Semoga----semoga---“ pikir saya. Bukan apa-apa, cuma takut kalo terlanjur investasi ternyata belum 3 (tiga) bulan sudah bosan, kan benar-benar tidak efisien ---- Manajer Keuangan tahunya effisien…dan effisiensi…he.. he..

Sepulang kursus dia langsung menagih dibelikan biola. Kami masih menyanggupinya. Dasar sang putri yang ‘pantang menyerah’, setiap menit, setiap ada kesempatan dia selalu menagih dengan alasan segera buat latihan. Akhirnya sayapun menyerah karena sudah tidak tahan ditagih - tagih, keesokan harinya langsung mengantar sang putri ke toko. Untung sebelumnya saya sudah tanya-tanya sama sang guru. Dan beliau sudah merekomendasikan merk dan toko biola yang paling optimal bagi sang putri. Kata beliau toko tersebut adalah pemasok yang harganya bisa lebih murah cukup signifikan dari penjual lainnya.

Karena saya dan suami sangat awam yang namanya biola, bahkan untuk memilih saja tidak bisa. Kami mempercayakan sales toko yang memilihkan. Konon, katanya, pertama kali yang dilihat adalah kayu kecil yang didalam biola jangan lepas karena itu yang berpengaruh pada resonansi. Yang kedua baru dilihat secara fisik luarnya. Setelah melakukan transaksi pembayaran, sang putri sudah bisa membawa pulang sebuah biola ukuran ¾ dengan merk “Pearl River”. Masih katanya sang guru juga… merk ini sudah lumayan untuk pemula seperti sang putri.

Ada 2 (dua) pesan dari sales toko yang selalu saya ingat. Bu, biolanya jangan dilap pake lap basah ya…karena lem bodinya khusus dan tidak bisa kena air, juga hati-hati biolanya jangan sampai jatuh.. Pesan ini selalu saya sampaikan kepada yang empunya, supaya dia selalu menjaga barang kesayangannya. Apalagi sang pangeran ikut penasaran dengan barang itu. Sang pangeran suka curi-curi kesempatan untuk menggeseknya dan lebih parah lagi alat penggeseknya juga dipakai main pancing-pancingan. OMG……

Satu minggu telah berlalu. Hari itu pertemuan les biola ke 2 (dua). Sang putri sudah dapat menenteng biola ke kelasnya. Selepas pertemuan dengan sang guru, dia membawa pulang selembar kertas bertuliskan beberapa not balok untuk latihan di rumah. Begitu masuk rumah dia langsung memainkan PR yang didapat, meskipun secara awam hanya terdengar “ngiiik….ngiiik….ngiiiikkkk….. Selain itu, dia minta didownloadkan konser pemain biola dan lagu-lagu yang ada alunan biolanya. Begitulah gambaran betapa dia saking gandrungnya sama satu alat musik tersebut.

Keesokan harinya, pagi-pagi buta sebelum mata saya terbuka sudah terdengar suara “ngiikk….ngiikkkk….ngiiikkkkk…. Sang putri sudah mengeluarkan biola dari dalam tasnya. Tak ketinggalan sang pangeran mulai usil mencuri-curi kesempatan memegang alat itu jika ditinggal yang empunya. Begitu seterusnya sampai siang hari kami memutuskan untuk pergi makan siang dan ke toko buku. Senja mulai menjelang pada waktu kami tiba di depan rumah. Saya langsung masuk ke kamar sang putri dengan maksud mau merapikan. Sedikit ada rasa kaget karena ada tutup putih kecil ( bagian dari barang kesayangannya) tergeletak di lantai. Tutup tersebut adalah tutup dari alat pembersih (menurut saya) alat penggeseknya.----Karena setahu saya sebelum biola diserahkan oleh sales toko, alat penggeseknya digesekkan terlebih dulu ke alat berwarna putih tersebut. Dan saya kelupaan bertanya. ----- Saya mulai khawatir akan barang kesayangan sang putri. Alangkah terkejutnya kami semua setelah dibuka tasnya terlihat seperti pada foto berikut.


Sang putri pun tak kuasa menahan tangisnya. Saya dan suami berusaha menghiburnya, dan kemudian kami mencoba menganalisa dan menemukan sebabnya. Tapi karena sampai tulisan ini dibuat kami masih belum berhasil menemukannya, maka harapan kami hanya satu, membawanya kembali ke toko semula untuk bisa diperbaiki. Bagaimanakah hasilnya? Silakan ditunggu di tulisan berikutnya : Biola “Pearl River” ( bagian 2) : ……………………….

By : Yunie Sudiro

Rabu, 17 Maret 2010

Ibu Rumah Tangga TIDAK Identik dengan Daster



Sebelumnya mari kita awali dengan potongan cerita dari salah seorang temen saya.
"Suami saya bekerja di bagian marketing...salah satu job nya adalah ikut merekrut tenaga penjual langsung (direct sales). Suatu hari, pada hari libur ada pelamar "gadis muda" yang datang ke rumah menyerahkan lamaran. Waktu itu saya yang membukakan pintu dengan mengenakan busana seadanya-----baby doll------ Setelah saya persilahkan duduk, si gadis langsung memerintah saya..."mbak, tolong dibikinkan minum...." Alamak..saya dipikirnya bukan nyonya rumah tapi dikiranya ART (Asisten Rumah Tangga). "

Jauh sebelum itu, di suatu departement store. "Dik, ini lho bagus buat busana harian" kakak ipar saya seraya menunjukkan terusan kasual. Kemudian beliau menceritakan tentang apa yang telah dialami oleh salah satu dari rekan kerjanya, sebut saja Bu 'G'. ----Pada suatu hari, Bu 'G' sedang mengarahkan asistennya merapikan halaman depan rumah. Kemudian datanglah seorang tamu dan seraya berkata pada Ibu 'G', "Ibunya ada?"... si Ibu sebagai nyonya rumah langsung merasa bahwa penampilannya yang waktu itu mengenakan daster lah yang menyebabkan tamunya menganggap dirinya sebagai pekerja di rumahnya.

Lain lagi dengan obrolan teman saya yang lain. Dia adalah teman sekost saya waktu kuliah. Kita adalah teman seangkatan dan sejurusan. Mungkin dia lebih gigih dari saya, hingga dia bisa wisuda 1 (satu) semester mendahului teman-teman seangkatan. Setelah wisuda dia langsung bekerja. Entah kenapa sekitar hampir setengah tahun dia memutuskan untuk resign dari tempat kerjanya. Sekitar beberapa bulan dia beristirahat sambil mencari pekerjaan pengganti. Pada saat masa menganggur dia sempat bilang kepada saya: 'nggak enak nggak kerja, nggak bisa dandan--nggak bisa pakai lipstik, nggak bisa pakai sepatu berhak tinggi,..bla...bla...bla...

Semua kejadian yang saya paparkan adalah merupakan efek dari paradigma lama, yaitu bahwa ibu rumah tangga cuma selalu di rumah, tidak bertemu siapa-siapa. Pakai daster saja cukup. Akhirnya sebagian dari mereka menganggap bahwa penampilan bukan merupakan suatu prioritas. Padahal penampilan terbukti bisa mendongkrak rasa percaya diri seseorang.

Untuk itu, kita sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah sebaiknya juga memperhatikan penampilan kita. Bagaimana kita di rumah, bagaimana kita di pesta, bagaimana berdandan sesuai pada tempatnya. Jadi bukan hanya wanita pekerja yang harus punya koleksi sepatu dan tas. Tapi, kita sebagai ibu rumah tanggapun seharusnya mempunyai koleksi sepatu dan tas. Selalu tampil rapi dan cantik merupakan upaya menghargai diri kita sendiri karena pada kenyataannya penilaian awal seseorang terhadap kita selalu tergantung pada pandangan pertama. Selain itu juga tidak mempermalukan orang-orang di sekitar kita, terutama suami. Jangan sampai ada yang berpendapat kita tak cocok berada di samping suami. Sttt ...tujuan lainnya sebenarnya adalah salah satu strategi biar para suami kita tidak cari yang 'segar' di luaran.


Sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah seharusnya tetap selalu menjaga penampilan. Penampilan tidak harus mahal, yang penting sesuai pada tempatnya dan orang lain dapat mengenali kita sebagai nyonya rumah.*)By : Yunie Sudiro

Kamis, 04 Maret 2010

Berlibur Ala Pantai Senggigi dengan Anggaran Lokal Di Pantai Bandengan Jepara

Tubuh bisa lelah. Kadang kita tak merasakan kelelahan itu. Tahu-tahu tubuh protes, meriang (paling ringan), flu, dst... Itu tandanya tubuh perlu istirahat. Begitu juga dengan mental-pikiran kita. Setiap hari kita selalu menggunakan pikiran kita. Lama-lama pikiran kita bisa capek.-- Orang bilang stess--. Jangan sampai otak kita protes. Mari kita sama-sama membuat otak kita relaks pada saat mulai penat. Saat inilah refreshing sangat berarti buat saya. Saya tak mau stress ringan menjadi berat. Maksudnya, saya tak mau jadi gila..ha..ha.. Tetapi refresing juga perlu biaya. Makanya jangan bikin acara refreshing malah membuat kita stress. Gara-gara pulang liburan membuat jatah belanja sebulan ke depan jadi ludes.

Kebetulan saya adalah sebagai pendatang di kota Semarang. Tak terasa sudah sekitar 4 tahun saya berdomisili di kota lumpia ini. Sayapun memanfaatkan momen ini untuk menyiasati anggaran liburan. Mumpung tinggal di Semarang saya mengagendakan untuk mengunjungi daerah wisata wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya di setiap kesempatan. Berikut saya akan sharing oleh-oleh liburan saya dan keluarga ke pantai Bandengan Jepara.

Lumayan lama saya tinggal di Semarang, tapi baru akhir-akhir ini mendengar ada pantai bagus, nuansa Bali di kota Jepara. Suamipun tergelitik untuk cari tahu lebih banyak melalui internet. Akhirnya kita dan teman-teman beserta keluarga masing-masing sepakat berlibur ke sana. Hotel sudah reserve. Berangkatlah kita dengan berbekal peta kota Demak, Kudus dan Jepara hasil download. Jangan lupa isi bensin. Untuk mobil dengan kapasitas mesin 1500 cc, diisi dengan premium Rp 150.000 sudah lebih dari cukup untuk pulang-pergi, dan sekedar keluar buat cari makan di luar hotel.

Sampailah kita di kota Jepara. Kamipun menyusuri Jl Pemuda - HOS Cokroaminoto - Kol Sugiyono - ketemu pasar - bingung harus kemana, karena nama jalan sudah tidak sesuai peta. Dua kali kita ketemu pasar lagi, artinya kita tak menemukan jalan. Kamipun memutuskan untuk kembali ke Jl A Yani dan mencari jalur alternatif lain, yaitu: Jl. A Yani - Jl Shima lurus arah Bangsri , nanti kita belok ke kiri sesuai petunjuk arah pantai Bandengan / Tirto Samudra Beach. Setelah itu kita lurus saja mengikuti jalan, agak jauh, sampai berakhir pada ujung jalan, tempat loket masuk pantai Bandengan.

Kami menginap di P*** Beach Resort. Pintu masuknya persis sebelum loket. Sejauh mata memandang resortnya memenuhi syarat untuk dihuni..tapi suasana lobi sepi..kayaknya di sana jumlah pegawainya tak banyak. Tanpa door man..kitapun masuk tempat reseption tanpa ada penyambutan di pintu utama, buka pintu sendiri dan tanpa welcome drink..tapi itu tak mempengaruhi kami untuk menikmati resort yang tersedia. Tadi saya hanya menggambarkan suasana 'sepi'. Setelah dapat kamar kamipun langsung berlari menuju pantai. Whoooaa … pasirnya putih lembut,..kolam renang dan restorasi dekat pantai,..dan kami menyadari kalau kita di tempat terpencil, jauh dari kota. Hal ini mengingatkan saya pada saat di pantai Senggigi-Lombok. Saran saya, siapkan makanan kecil yang cukup.









Malam mulai tiba, sunyi mulai terasa. Yang terdengar hanya deburan ombak. Kami hanya bisa duduk di restorasi tepi pantai, bercengkrama sambil menikmati secangkir kopi. Di sana masih minim hiburan. Karaokepun tak ada.

Tak terasa saya, suami dan teman-teman telah menghabiskan malam sampai jam 02.00. Tanpa hiburan kami telah melewatkan malam bersama dengan mengesankan. Kantuk mulai menyerang, tanpa mimpi, hari telah berganti. Pagi begitu cerah, kami mulai menyusun aktivitas supaya hari terakhir kami tidak sia-sia. Lupakan luar resort...anda rasakan suasana resort dan pantainya...bermain pasir...bermain air laut...naik dan berenang di kolam renang....balik lagi ke pantai....naik banana boat...naik perahu kano atau mau perahu kayak juga ada...mau berkenalan sama ekspatriat ....sampai melihat yang memakai bikinipun bisa....- pasti anda merasa ada perasaan lain,... Oh ya...jangan lupa berfoto...





Itulah oleh-oleh saya dari Jepara. Silakan mencoba.*)By: Yunie Sudiro.